breadcrumb
breadcrumb
menu
Menu Cepat
Artikel Kampus
Informasi & berita terbaru
Cara Desainer Grafis Membagi Waktu Kuliah dan Pekerjaan: Pisahkan Revisi Klien dan Tugas Desain
Pelajari cara desainer grafis membagi waktu kuliah dan pekerjaan, mengatur revisi klien, tugas desain, waktu cadangan, serta jadwal S1 DKV Universitas LIA.
Bekerja sebagai desainer grafis berarti menghadapi pekerjaan yang tidak selalu berhenti ketika desain pertama selesai.
Ada revisi. Ada perubahan brief. Ada tenggat. Ada permintaan tambahan. Ada juga saat ketika satu desain yang terlihat sederhana justru membutuhkan lebih banyak eksplorasi.
Karena itu, kuliah sambil kerja tidak cukup hanya mengandalkan jadwal belajar yang kaku.
Desainer grafis membutuhkan pola yang memisahkan dengan jelas antara waktu mengerjakan revisi klien dan waktu mengembangkan kemampuan desain untuk dirinya sendiri.
Bagi pekerja yang sedang mempertimbangkan S1 Desain Komunikasi Visual, pertanyaannya bukan hanya:
“Apakah saya punya waktu untuk kuliah?”
Tetapi juga:
“Bagaimana saya tetap belajar ketika revisi desain dan tenggat klien berubah?”
Saat Revisi Desain Membuat Waktu Belajar Ikut Bergeser
Bayangkan sore ini kamu sudah berencana belajar setelah bekerja.
Namun, klien meminta perubahan warna.
Setelah revisi selesai, ada permintaan mengubah tata letak.
Kemudian muncul tambahan materi.
Waktu yang awalnya disiapkan untuk belajar akhirnya ikut terpakai.
Situasi seperti ini cukup umum dalam pekerjaan kreatif.
Karena itu, jadwal belajar yang hanya mengandalkan jam kosong sering mudah terganggu.
Lebih realistis jika kamu memiliki dua pola:
- Minggu biasa, ketika revisi relatif terkendali.
- Minggu sibuk, ketika tenggat proyek dan revisi datang berdekatan.
Target belajar pada dua kondisi tersebut tidak harus sama.
Petakan Benturan Kuliah dan Pekerjaan dalam Kalender Tujuh Hari
Mulailah dengan membuat kalender tujuh hari.
Masukkan seluruh aktivitas yang benar-benar menggunakan waktu.
Catat:
- Jam mulai dan selesai bekerja.
- Waktu perjalanan.
- Jadwal kelas.
- Tenggat klien.
- Tugas kuliah.
- Tanggung jawab rumah.
- Waktu makan.
- Waktu istirahat.
- Aktivitas rutin lain.
Setelah semuanya terlihat, baru cari ruang untuk belajar.
Sebagai contoh awal, kamu dapat menyiapkan:
- Dua sesi belajar singkat sekitar 45–60 menit.
- Satu sesi lebih panjang untuk tugas desain.
- Satu blok waktu cadangan.
Waktu cadangan penting bagi desainer karena revisi tidak selalu datang sesuai rencana.
Pisahkan Jadwal Revisi dan Jadwal Eksplorasi Desain
Salah satu masalah pekerja kreatif adalah semua aktivitas terasa sama-sama “desain”.
Padahal tujuannya berbeda.
Saat revisi klien, kamu sedang menyelesaikan kebutuhan pekerjaan.
Saat membuat tugas kuliah atau latihan pribadi, kamu sedang mengembangkan kemampuan.
Karena itu, beri label yang berbeda di kalender.
Misalnya:
- Revisi Klien
- Tugas Kuliah
- Eksplorasi Ide
- Belajar Teori DKV
- Istirahat
Pemisahan ini membantu kamu melihat apakah seluruh energi kreatif hanya habis untuk pekerjaan.
Jika semua waktu desain digunakan untuk revisi, ruang untuk berkembang bisa semakin kecil.
Sisakan Satu Blok Waktu untuk Revisi Mendadak
Kalender yang penuh membuat satu revisi kecil bisa menggeser seluruh minggu.
Misalnya:
- Senin latihan konsep.
- Selasa mengerjakan tugas.
- Rabu eksplorasi visual.
- Kamis kelas.
- Jumat kelas.
- Sabtu kelas.
- Minggu menyelesaikan proyek.
Sekilas terlihat rapi.
Namun, ketika Selasa muncul revisi besar, semua agenda berikutnya bisa ikut bergeser.
Karena itu, sisakan satu blok kosong.
Gunakan ketika:
- Revisi datang mendadak.
- Tenggat klien berubah.
- Tugas kuliah membutuhkan tambahan waktu.
- Eksplorasi visual belum selesai.
- Tubuh membutuhkan istirahat.
Ruang kosong membuat jadwal lebih tahan terhadap perubahan.
Bedakan Target Minggu Biasa dan Minggu Tenggat
Pada minggu biasa, gunakan waktu belajar untuk aktivitas yang membutuhkan energi kreatif lebih besar.
Misalnya:
- Mengembangkan konsep.
- Membuat beberapa alternatif visual.
- Mempelajari tipografi.
- Membaca materi komunikasi visual.
- Menyelesaikan tugas desain.
- Membuat eksplorasi gaya.
Pada minggu dengan tenggat klien, kurangi target.
Misalnya cukup:
- Membuat satu sketsa.
- Membaca ulang catatan.
- Meninjau satu konsep.
- Menyelesaikan satu bagian tugas.
- Menyiapkan ide untuk dikembangkan nanti.
Dengan cara ini, minggu sibuk tidak menjadi minggu tanpa perkembangan sama sekali.
Pecah Tugas Desain Menjadi Hasil Kecil
Jangan menulis target:
“Kerjakan tugas DKV.”
Itu terlalu besar.
Pecah menjadi beberapa tahap:
- Membaca brief.
- Menentukan pesan utama.
- Mencatat target audiens.
- Mencari referensi.
- Membuat tiga sketsa.
- Memilih satu arah visual.
- Menentukan tipografi.
- Menentukan warna.
- Menyusun komposisi.
- Menulis alasan desain.
Dengan pembagian seperti ini, sesi 30–60 menit tetap menghasilkan kemajuan.
Fokus pada Hasil, Bukan Lama Belajar
Target “belajar desain dua jam” belum tentu efektif.
Lebih baik menentukan hasil.
Misalnya:
- Menyelesaikan tiga sketsa.
- Menemukan satu konsep utama.
- Menentukan dua pilihan tipografi.
- Membuat satu komposisi.
- Menulis alasan pemilihan visual.
- Membandingkan dua alternatif desain.
Target berbasis hasil membantu sesi belajar lebih terarah.
Coba Tiga Sketsa dari Satu Brief Fiktif
Salah satu latihan yang relevan adalah membuat tiga sketsa dari satu brief sederhana.
Misalnya brief fiktif:
“Buat poster untuk acara festival kreatif anak muda.”
Jangan langsung membuat desain final.
Buat tiga pendekatan:
- Versi yang fokus pada tipografi.
- Versi yang fokus pada ilustrasi.
- Versi yang fokus pada fotografi atau bentuk visual sederhana.
Setelah itu, tanyakan:
- Apa perbedaan pesan dari masing-masing visual?
- Siapa audiens yang paling cocok?
- Mengapa satu pendekatan terasa lebih kuat?
- Apakah komposisinya mendukung pesan?
- Apa alasan pemilihan warna?
Latihan seperti ini membantu mengembangkan eksplorasi ide.
Dari Mengikuti Referensi menuju Mengembangkan Konsep
Salah satu kekhawatiran pekerja desain adalah merasa kemampuan kreatif berhenti pada tahap mengikuti contoh atau arahan.
Referensi memang penting.
Namun, jika terlalu bergantung pada referensi, ruang untuk mengembangkan gagasan sendiri bisa terbatas.
Karena itu, ketika belajar, jangan hanya bertanya:
“Desain ini bagus atau tidak?”
Tambahkan pertanyaan:
- Apa masalah komunikasinya?
- Apa pesan utamanya?
- Siapa audiensnya?
- Apa ide yang ingin disampaikan?
- Mengapa visual ini dipilih?
- Apa alternatif yang mungkin?
Pertanyaan seperti ini membantu desain bergerak dari eksekusi menuju konsep.
Latih Argumentasi Desain
Desainer yang berkembang bukan hanya mampu membuat visual.
Ia juga mulai mampu menjelaskan alasan di balik karyanya.
Misalnya:
- Mengapa memilih warna tertentu?
- Mengapa judul dibuat besar?
- Mengapa ruang kosong digunakan?
- Mengapa foto ditempatkan di posisi tertentu?
- Mengapa memilih satu jenis tipografi?
Alasan tersebut membuat desain tidak hanya terasa berdasarkan selera.
Ada pertimbangan komunikasi di baliknya.
Kemampuan seperti ini penting untuk membangun identitas profesional yang lebih kuat.
Hubungkan Kuliah dengan Kebutuhan Pekerjaan
Program S1 Desain Komunikasi Visual mempelajari penyampaian pesan melalui gambar, tipografi, video, dan media digital.
Bagi desainer grafis, bidang tersebut dapat membantu memperluas kemampuan dalam:
- Pengembangan konsep visual.
- Eksplorasi ide.
- Komunikasi visual.
- Penyusunan pesan.
- Pemilihan media.
- Argumentasi desain.
Dengan begitu, waktu belajar tidak hanya digunakan untuk menyelesaikan tugas.
Ada kemampuan yang memang sedang dikembangkan.
Baca juga: Pelajari S1 Desain Komunikasi Visual Universitas LIA
Gunakan Brief Fiktif untuk Latihan
Jika ingin berlatih, tidak perlu menggunakan brief atau materi rahasia milik klien.
Gunakan:
- Brief fiktif.
- Produk simulasi.
- Brand latihan.
- Data yang disederhanakan.
- Materi yang memang boleh digunakan.
Misalnya:
Brand fiktif: kedai kopi lokal.
Target audiens: pekerja muda.
Tujuan: membuat poster promosi pembukaan cabang baru.
Dari situ kamu bisa melatih konsep tanpa menggunakan data pekerjaan nyata.
Bangun Kebiasaan Belajar yang Mendukung Perubahan Peran
Kuliah sambil kerja bukan hanya menambah aktivitas baru.
Kamu juga sedang mengubah cara melihat pekerjaan.
Jika sebelumnya fokus pada:
“Bagaimana desain ini cepat selesai?”
Pertanyaannya bisa berkembang menjadi:
- Apa masalah komunikasinya?
- Apa pesan yang harus diprioritaskan?
- Mengapa satu visual lebih efektif?
- Apa alternatif ide lain?
- Bagaimana menjelaskan keputusan desain?
- Apa yang sebenarnya dipahami audiens?
Pembelajaran terstruktur, diskusi, dan umpan balik membantu memperdalam cara berpikir tersebut.
Evaluasi Kalender Setiap Minggu
Jadwal belajar tidak harus langsung sempurna.
Setiap akhir minggu, evaluasi dengan tiga pertanyaan:
- Apakah tugas utama selesai?
- Apakah kemampuan yang sedang dipelajari benar-benar berkembang?
- Apakah waktu istirahat masih cukup?
Jika revisi klien selalu membuat tugas kuliah berhenti, waktu cadangan perlu diperbesar.
Jika semua tugas selesai tetapi kamu kehilangan energi kreatif, jadwal mungkin terlalu padat.
Jika sesi belajar singkat tetap menghasilkan karya dan refleksi, pola tersebut bisa jadi lebih cocok.
Contoh Kalender Minggu Biasa Desainer Grafis
Contoh berikut bisa dimodifikasi.
Senin
- Membaca materi visual ringan.
- Mencatat satu ide.
Selasa
- Membuat beberapa sketsa.
Rabu
- Mengembangkan satu konsep.
Kamis
- Fokus pada pekerjaan dan kelas.
Jumat
- Fokus pada pekerjaan dan kelas.
Sabtu
- Mengikuti kelas.
- Setelahnya, cukup mencatat bagian yang ingin diperdalam.
Minggu
- Menyelesaikan tugas.
- Menyiapkan target minggu berikutnya.
Contoh Kalender saat Tenggat Klien Padat
Pada minggu sibuk, target dapat diperkecil.
Awal minggu
- Majukan tugas kuliah.
- Kerjakan bagian yang membutuhkan energi kreatif tinggi.
Menjelang tenggat klien
- Fokus pada pekerjaan.
- Gunakan sesi singkat untuk review.
Hari kelas
- Prioritaskan mengikuti pembelajaran.
Waktu cadangan
- Gunakan untuk bagian tugas yang tertunda.
Dengan cara ini, satu periode revisi padat tidak harus menghentikan proses belajar.
Menyesuaikan Waktu dengan Kelas Karyawan S1 Desain Komunikasi Visual Universitas LIA
Jika kamu sedang mempertimbangkan pendidikan formal, Universitas LIA memiliki Program S1 Desain Komunikasi Visual Kelas Karyawan (P2K).
Program ini mempelajari penyampaian pesan melalui gambar, tipografi, video, dan media digital.
Gelar yang diperoleh adalah Sarjana Desain (S.Ds.).
Program Studi S1 Desain Komunikasi Visual Universitas LIA tercatat berakreditasi Baik, sedangkan institusi Universitas LIA berstatus Terakreditasi.
Perkuliahan menggunakan metode Hybrid Learning.
Jadwal yang tercantum adalah:
- Kamis: 16.00–22.00
- Jumat: 16.00–22.00
- Sabtu: 08.30–16.00
Bagi desainer grafis, jadwal tersebut dapat langsung dimasukkan ke kalender kerja.
Perhatikan:
- Jam selesai bekerja.
- Waktu perjalanan.
- Potensi revisi sore atau malam.
- Tenggat klien.
- Kesiapan mengikuti kelas Sabtu.
- Waktu untuk mengerjakan tugas desain.
Informasi mengenai apakah seluruh jadwal merupakan satu paket wajib atau pilihan kelas dapat dikonfirmasi kepada pihak kampus.
Baca juga: Informasi S1 Desain Komunikasi Visual Universitas LIA
Perhitungkan Biaya Bersamaan dengan Jadwal
Rencana kuliah juga perlu memasukkan pembiayaan.
Data program mencantumkan:
- Biaya formulir: Rp100.000
- Biaya herregistrasi: Rp750.000
- Total biaya awal simulasi: Rp850.000
- Simulasi enam kali angsuran: Rp750.000 per bulan
Dengan mengetahui angka tersebut sejak awal, kamu bisa memasukkan pendidikan ke dalam perencanaan rutin.
Informasi kampus secara umum dapat dilihat melalui website Universitas LIA.
Bawa Kalender Kerja ketika Bertanya kepada PMB
Jika ingin menilai kecocokan kuliah dengan pekerjaan desain, jangan hanya bertanya:
“Apakah ini kelas karyawan?”
Bawa jadwal kerja yang sebenarnya.
Kemudian tanyakan:
- Apakah kelas Kamis, Jumat, dan Sabtu wajib diikuti semuanya?
- Bagaimana pola Hybrid Learning?
- Apakah jadwal berubah setiap semester?
- Berapa banyak tugas desain di luar kelas?
- Bagaimana jika ada tenggat klien yang bersamaan?
- Apakah seluruh jadwal merupakan satu paket atau pilihan?
Pertanyaan spesifik memberi gambaran yang lebih berguna.
Desainer Grafis Perlu Memisahkan Revisi dan Waktu Berkembang
Bekerja di bidang desain berarti revisi akan selalu menjadi bagian dari proses.
Namun, jangan sampai seluruh waktu kreatif hanya habis untuk mengikuti permintaan.
Sisakan ruang untuk:
- Mengeksplorasi ide.
- Membuat sketsa.
- Mempelajari konsep.
- Mencoba pendekatan visual baru.
- Menulis alasan desain.
- Mengembangkan gaya berpikir kreatif.
Mulailah dengan:
- Membuat kalender tujuh hari.
- Membedakan minggu biasa dan minggu tenggat.
- Menyediakan waktu cadangan.
- Memajukan tugas kuliah.
- Memecah tugas desain menjadi tahap kecil.
- Menjaga waktu istirahat.
- Menggunakan brief fiktif untuk latihan.
- Memisahkan revisi klien dari eksplorasi pribadi.
Dengan pola seperti ini, pekerjaan dan kuliah tidak harus saling mengambil seluruh ruang.
Pengalaman sebagai desainer grafis justru dapat menjadi modal untuk berkembang menjadi desainer yang memiliki gagasan visual sendiri dan mampu menjelaskan alasan di balik karyanya.
Pelajari S1 Desain Komunikasi Visual di Universitas LIA, siapkan kalender kerja dan tenggat klienmu, lalu diskusikan kecocokan jadwal dengan PMB sebelum mendaftar.
Hubungi layanan kami
Pusat Bantuan Kampus
Kampus UNIVERSITAS LIA • Jl. Pengadegan Timur Raya No.3, Pengadegan, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12770
Tagged (Tags) :
© 2026 Universitas LIA Jakarta. All rights reserved.
UNIVERSITAS LIA